Thursday, October 01, 2009

From the heartless for the broken-hearted

* Dedicated to my best friend who is currently suffering from a broken liver heart, and for all the broken-livered broken-hearted out there. May you... read in peace.


Segalanya akan terlihat kecil kalau kita memandangnya dari kejauhan. Sama seperti permasalahan hidup. We are way much better at sorting out problems when we're not buried in it. Dan entry ini hanya sekedar menumpahkan kekesalan gw kepada beberapa orang yang rasanya hanya berputar2 di sekeliling masalahnya. Walopun mau ga mau gw harus sadar, situasinya jelas lebih sulit bagi mereka, krn mereka sedang bermasalah. Jadi izinkan saya untuk memberikan suatu jalan keluar, atau nasihat -- yang sebisa mungkin gw tulis in the simplest language I can manage, supaya lebih mudah dimengerti -- yang gamblang, tepat sasaran, and (seperti kata salah satu kolega saya) gives you a good punch right in your face.

Jam terbang gw emang ga tinggi. Gw baru 2x patah hati dan rasanya gw ga mau lagi patah hati. Ya iyalah ya. Anyone with a common sense wouldn't want to suffer. Tapi dengan jam terbang gw yang masih cupu ini, gw ingin berusaha memberi semangat bagi yg sedang patah hati. Walopun gw sendiri ga yakin apa hal2 yg gw tulis ini bakal gw lakuin waktu gw patah hati berikutnya (kalo ada yang berikutnya, tp jangan sampe d).

Pagi hari ini gw menerima sebuah surat dari teman lama. Dan tentu aja, di dalamnya tertulis kata2 klasik: "Gw ga tau gw bisa ngelewatin ini apa nggak." "Gw takut, gw ga tau apa yg ada di depan."

Dan spontan gw keinget kata2 seorang sodara gw: "Kalo sama yg ini gagal, rasanya gw ga mau lagi d cari yg lain." And yet she managed to find another one. And another one after that. And another one, and another one...

What I'm trying to say is, those words are useless. Krn pada akhirnya toh dia nemu orang lain juga. Jadi klo dia secara sadar dan tidak di bawah paksaan ngucapin kalimat itu, ga usah cari orang lain. Or vice versa. Klo dia tau dia bakal bisa nemuin orang lain, jangan ucapin kalimat itu. But actually, that is just the problem: dia ga tau.

Emang kita ga bakalan pernah tau apa yg akan terjadi sama kita. Kita ga tau siapa yg jadi jodoh kita ato gimana masa depan kita. Dan gw nemu ilustrasi yang bagus di buku "The Secret". Kira2 seperti ini bunyinya:

Anda bisa menyetir dari satu kota ke kota lain yang berjarak sekian ratus kilometer di waktu malam. Dan yang anda miliki hanyalah lampu mobil yang menerangi jalan raya kira-kira sekian puluh meter ke depan. Tetapi pada akhirnya, anda bisa sampai ke kota yang berjarak sekian ratus kilometer itu, karena yang sebenarnya anda perlukan hanyalah melihat beberapa puluh meter ke depan.

Dan penunjuk jalan, of course. And what I'm trying to say is, kita emang ga tau apa yg ada beberapa puluh taun ke depan. Tapi asal kita berada di jalan yang benar, yang kita butuhkan hanyalah melihat beberapa saat ke depan and eventually, you'll get there. Yang kita butuhkan hanyalah bereaksi dengan baik pada saat ini. And let time lead us there.

Dalam kasus ini, temen gw ini sedang patah hati. Dia sedang bimbang memilih. Well, the very first thing for you to do is make up your mind. Dan pahamilah kalo setiap pilihan yg kita buat ada konsekuensinya. Setiap belokan yg kita ambil memiliki resiko. Bisa jadi ada truk yg siap menghadang dari arah yg berlawanan, bisa jadi ada lobang gede, ato pohon tumbang. But you've made your choice, jadi mau ga mau lo harus hadapi truk itu. Ato lobang gede itu. Ato pohon tumbang itu. Make up your mind and live through the process.

And you don't know whether you can live through this. My answer is: you can. Kita semua adalah orang-orang tangguh dengan kekuatan yang melebihi apa yang kita bayangkan. Your strength is buried deep deep down, waiting to be discovered. Ga perlu terlalu ngotot sampe memaksakan diri harus bisa jalan 10 kilometer lagi. Yg kita perlukan hanyalah melewati satu hari through the process. Hari ini. Satu hari. Dan satu hari lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan tanpa disadari, proses patah hati yg menyakitkan itu udh selesai. Orang-orang yg hancur krn masalah itu hanyalah orang2 yg ga berani belok. Orang yg ga yakin dirinya mampu berjalan sampe tujuan. Orang yg terlalu lama berpikir pro dan kontra dari keputusannya. Orang yang terus berdiri di persimpangan jalan dan keserempet sana sini, basah diterpa hujan dan angin badai, sampe pada akhirnya tenaganya dia habis sendiri dan dia blm bergerak sedikitpun. Makanya ga usah kebanyakan mikir.

Ga usah mikir 'rasanya gw ga mampu', 'kayanya ini yg terakhir', 'jangan2 nanti begini'. Kenapa ga usah mikir? Krn lo lagi bermasalah. Dan orang yg lagi ada masalah ga bisa berpikir jernih. Jadi ga usah mikir. Just make up your mind and walk.

Inget aja, jalan kita itu indah. Tuhan akan memberikan yg terbaik buat kita. Dan sebagai pemilik yg baik, Dia akan mempersiapkan mobilnya untuk menempuh perjalanan jauh. Dia ga bakalan bawa mobil sedannya menerjang banjir yg tingginya 2m. Kalo kita menemui masalah, Dia akan memastikan kita mampu ngelewatinnya. Yang harus kita lakukan hanyalah mengingat kalo ada hal yg indah menanti di depan sana. Dan berjalanlah sejauh lampu kita menerangi jalan.

Semoga entry gw ini bisa cukup memberi semangat bagi kalian yg sedang patah hati. Masalah bisa menghancurkan keadaan sekeliling kita tapi masalah ga bakal bisa menghancurkan jiwa kita. Our soul is the only thing we've (actually) got, so make it strong.

Have a good day pal :)

|