Tuesday, September 15, 2009

I'm so hot? Yeah, I know. My mirror told me that this morning

Gadis itu terhimpit di antara kerumunan pekerja yang memadati stasiun sudirman. Kulitnya yang putih membuat wajahnya terlihat pucat jika tidak dipoles make-up. Rambut lurusnya yang biasanya di-roll (kalo lagi rajin) sehingga ikal di bagian bawah berwarna ashen black dalam cahaya ruangan, auburn dalam cahaya matahari. Hidungnya mancung, mulutnya mungil. Raut mukanya keras namun santai. Elegant, charming, lonesome, yet untouchable (menurut salah satu rekan sekantornya).


Seolah tidak sadar dengan aura "untouchable" yang dipancarkan gadis itu, atau hanya sekedar nekat mungkin, seorang pria menyapanya.


"Tumben hari ini lebih siang. Biasanya kan naik kereta yang lebih pagi."


Dan mereka pun menjalin komunikasi. Diawali dengan kebodohan si gadis untuk bertukar nomor telepon dan diakhiri dengan iritasi sang gadis saat sang pria mulai menawarkan untuk mengantar sang gadis pulang ke rumahnya. Untuk mengobati iritasinya itu, sang gadis menawarkan untuk bertukar akun facebook, tentunya dengan maksud terselubung untuk mengusir sang pria dari handphonenya. "Kalo udah ada account facebook, lo hubungin gw lewat facebook aja lah. Leave my cellphone alone", begitu pikir sang gadis.


Suatu hari terjadilah kecelakaan itu. Sang gadis dan ayahnya yang menaiki kereta yang sama kebetulan bertemu dengan sang pria agresif itu. Di satu gerbong. Di tempat duduk (or rather, tempat berdiri) yang berjarak hanya sekitar 1-2 m dari tempat sang gadis berdiri.


Very bad.


Dan terjadilah kecelakaan yang lebih besar: ada gangguan sinyal di stasiun Tanah Abang. Tanah Abang adalah salah satu stasiun besar dan gangguan sinyal di stasiun tersebut berarti terhambatnya komunikasi antara masinis kereta dan train dispatcher di stasiun, dan otomatis setiap kereta harus menunggu -- entah berapa lama -- sampai masinis benar-benar yakin jalur kereta tersebut aman.


Sang gadis berangkat dari stasiun Pondok Ranji sekitar pukul 06:40. Sampai di stasiun Kebayoran sekitar pukul 06:45... dan tertahan sekitar 30 menit. Berangkat dari stasiun Kebayoran sekitar pukul 07:15. Sampai di stasiun Palmerah sekitar pukul 07:20... dan tertahan sampai entah kapan. Sang gadis dan beberapa orang temannya mulai panik. Pasalnya, mereka sudah berkomitmen untuk datang pukul 7 pagi selama bulan puasa dan itu berarti mereka harus clock-in sebelum pukul 8 agar terhindar dari pemotongan cuti. Tanpa pikir panjang, sang gadis dan beberapa temannya langsung melompat turun dari kereta dan mencari taksi di luar stasiun.


Singkat cerita, mereka akhirnya berhasil menemukan taksi dan setelah berlari-lari sambil tertawa-tawa, mereka berhasil clock-in pada pukul 07:58 dan 07:59.


Sekitar dua hari kemudian, sang gadis membuka akun facebooknya dan menemukan sebuah pesan dari sang pria agresif itu.


"Tadi kenapa turun di slipi? Kamu cantik sekali tadi.."


Pesan senada juga pernah diungkapkannya via sms:


"Cuman mau bilang aja, kalo kamu cantik bgt, perfect, kayak boneka."


Dan sampai sini sang gadis merinding.


------------------------------------------------------------------------------------

Q & A (Questions & Answers):


Q: Tadi kenapa turun di slipi?
A: I'm late, for God's sake --'

Q: Kamu cantik sekali tadi..
A: Yeah, I know. My mirror told me that this morning.

Q: Cuman mau bilang aja, kalo kamu cantik bgt, perfect, kayak boneka.
A: ... Err... thanks? Perfect? Eww.


-------------------------------------------------------------------------------------


On one side, such comments are healthy for the girl's not-so-healthy level of narcissism. On another side, his comments are no longer in the "Compliments" level. His comments are already in the "Swooning Over" level. And that's... very unhealthy.


Here is a little linguistic math:


-------------------------------------------------------------------------------------

According to Concise Oxford English Dictionary:


Swoon: (usually swoon over) be overcome with adoration or other strong emotion.

Overcome: (of an emotion) overwhelm (someone).
Overwhelm: give too much of something to

Adoration: noun. verb: Adore: worship or venerate
Worship: great admiration or devotion

Swoon: (usually swoon over) give too much of great admiration or devotion or other strong emotion.


-------------------------------------------------------------------------------------


Pernah baca buku The Secret? Prinsip utama dari buku itu adalah hukum tabur tuai. Taburlah berkat, banyak-banyaklah beramal, maka rejeki akan datang. Taburlah pemikiran positif, pandanglah orang di sekeliling anda dengan respect, maka respect itu akan kembali kepada anda. Love yourself and others, and love will come to you. Itulah kenapa gw ga pernah setuju sama the idea of swooning over someone, especially when that someone is physically near a.k.a "touchable". Adoration and a few compliments here and there should be enough. Dan dalam pandangan gw, komentar sang pria terhadap sang gadis itu udah kelewatan. It gives a subtle hint and impression that he is not confident with himself.


Please remember this: Swooning over someone gives an impression that you are not confident with yourself (rephrased: merendahkan diri sendiri dan menganggap orang lain selalu lebih baik). Dan jujur sih, gw ga tertarik sama orang yg selalu memuji memuja menyanjung gw sedemikian rupa. Gw lebih tertarik sama orang yg percaya diri.


Okay, I know we're not talking about my preferences of a dream guy. Tapi gw harap kalimat gw tadi bisa memberikan sedikit gambaran about how people will look towards you kalo lo tetep merendahkan diri lo sendiri. Unless you're being a total mess in every aspect of your life, ga ada yg bakal menganggap lo rendah kecuali diri lo sendiri. Inget pepatah iseng: "Kalo bukan diri sendiri, siapa lagi yg muji"? Well, it goes the other way round.


Bukannya bermaksud sombong, tapi gw dari kecil emang suka ada yg muji. Mainly krn wajah gw yg kata orang-orang mirip wayang. And being such childish little girls, envy bloomed in the house like flowers in a garden. Sampe gw pernah beberapa kali mikir apa penampilan fisik gw ini sebuah kesalahan. And I began to love my appearance as much as I dislike it. Kadang gw berpikir bahwa penampilan gw adalah berkat besar yang harus gw syukuri, tapi bagaimanapun gw ga pernah lepas dari kejadian ga mengenakkan akibat penampilan gw ini.


In fact, ada yg pernah melontarkan komentar pedas tentang pembagian peran di sebuah pertunjukan: "Kenapa aku selalu jadi cowo? Aku kan cewe. Cuman gara-gara Wulan mukanya lebih cantik aja makanya dia selalu dapet peran cewe". And for a split second, gw ngerasa tangan kiri gw yg lagi megang air minum menegang, seolah kalo gw turutin impuls gw, gw siram juga tuh air minum ke mukanya dia. But I shrugged it off. Fortunately. Tentu aja, nyokap gw bilang: "Udahlah ga usah didengerin dia ngomong apaan." But still, my ears are attached in its place.


Yah, that was just an example. An example yg bikin gw berpikir kenapa dia ga bisa puas dan bersyukur. Be happy with herself. Toh penampilan fisik gw juga ga selalu mendukung gw. Of course, I gained a few fans here and there, but no one really wanted to touch my heart. And what's the use of that?


Ok, kembali ke swooning over dan confidence. I hope by now you realize why I prefer confidence to compliments. Why? I'm used to hearing compliments about me. In fact, I'm too used to them so that, unless I'm in my narcisstic mode, I find compliments a wee bit disturbing. Not that I dislike compliments (hey, I'm still human), tp gw lebih menyukai orang yg percaya diri. Orang yg happy dengan dirinya sendiri. Orang yg bisa mengalihkan energinya untuk mengasah dirinya melakukan hal lain dgn lebih baik, bukan menghabiskannya untuk swooning over someone. Orang seperti itu keliatan kuat, bersemangat, dan penuh kehidupan. Sepertinya dia bisa ngelakuin apapun yang dia mau.


But what if it's the other way round? It's the Person You're Swooning Over (PYSO hereafter) who craves for compliments? Either the PYSO is suffering from inferiority complex or he's just plain stubborn. In either case, bring him to a psychiatrist.


Selama lo masih bisa jalan tanpa nabrak orang, selama lo masih bisa sekali aja makan tanpa berceceran, selama lo masih bisa tidur tanpa jatoh dari kasur, ga ada alesan bagi lo untuk merendahkan diri sendiri. Yeah, I know. Who am I to speak about looking down at one's self? Gw bisa dengan gampang dituding bahwa gw punya segalanya yg gw butuhkan untuk hidup ini, dan jelas aja gw bisa dengan gampang ngomong agar orang ga merendahkan diri sendiri. But I'm not at all like that.


Katakanlah penampilan fisik gw oke. Oke emang, dgn perut gendut yg ga bakal ilang no matter how hard I try. Katakanlah gw orang yg cerdas. Cukup cerdas, walopun seringkali gw dikatain lemot sama orang2 di sekitar gw. Nothing so smart about that, huh? Katakanlah dari segi keuangan gw cukup mapan. And yet, gw masih harus berusaha keras untuk mengatur budget bulanan gw supaya ga tekor di akhir bulan. Katakanlah pasti banyak orang yg ngejar gw. Hahaha. Gw cuman ketawa aja d. Katakanlah gw orang yg baik.


...
Masa sih? --'


You see, no matter how perfect I seem to all of you, tetep aja ada bolong-bolongnya. You never know what's going on behind closed doors.. or behind closed skulls. That's why I despise the word 'perfect' yg dilontarkan sang pria tadi (yes, in case you haven't noticed, it's me I was talking about the whole time). It feels like a ton of bricks, you know. Dan lo ga pernah tau apa yg terjadi sama si PYSO, so you might as well remember this: "Never compare yourself to anyone. Their life might be more wretched than you think."


I hope I got my point across. And I hope you understand that each of us are unique. And seriously, how do you compare an apple to an orange? Ibaratnya, kalo lo itu sebuah jeruk, ga usah pusing sama kulit mulus ato daging yg keras, krn lo itu jeruk. And oranges are supposed to be pulpy and rather sour, so just live with it. Just be the best at what you do, and stop comparing yourself to anyone. And eventually, lo ga bakal jatuh bangun di depan si PYSO, krn masing-masing dari lo punya kelebihan yg bisa dibanggakan. And we can live together in peace. No excessive compliments, no swooning over someone, no irritations. Period.

|