Wednesday, July 22, 2009

Masihkah Kau Mencintai Variety Show?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa suatu genre acara televisi yang biasa disebut dengan variety show banyak yang menggunakan skenario. Jangankan variety show, pertandingan gulat pun ada yang, menurut kabar angin, menggunakan skenario. Dan, semakin banyak orang yang beranggapan bahwa variety show menggunakan skenario, semakin banyak pula pihak yang berlomba-lomba memunculkan tema yang baru untuk genre variety show ini, tentunya tema yang dianggap memiliki kesempatan kecil untuk memakai skenario. Dalam entry ini saya akan membahas sebuah variety show yang saya duga menggunakan skenario.

Beberapa hari yang lalu saya pernah secara tidak sengaja menonton sebuah reality show yang membahas masalah rumah tangga. Sepasang suami istri dengan permasalahannya yang pelik ditampilkan di sebuah studio TV. Ditonton beribu pasang mata yang berada di studio maupun yang melihatnya melalui layar kaca. Salah satu diantara ribuan orang itu adalah seorang psikolog yang, sampai kemarin, saya tidak pernah tahu ada di antara penonton di studio. Berbagai adegan disajikan. Mulai dari adegan wawancara sampai adegan drama yang begitu menyayat hati. Bahkan tak jarang kata-kata kasar dan teriakan bergema di dalam studio itu. Dan sekali lagi, disiarkan melalui layar kaca dan ditonton beribu pasang mata.

Kembali ke tayangan reality show yang saya tonton itu. Yah, singkat cerita, saya tidak berminat menontonnya dan langsung tidur. Kakak saya yang berada di puncak menonton tayangan itu sampai habis dan menceritakannya pada saya beberapa hari kemudian -- di sela-sela rasa sakit akibat dikerok yang tak jarang membuat saya mengaduh. Kira-kira begini ceritanya:

"Sang istri (selanjutnya disebut I) menjelaskan kepada pemirsa bahwa suaminya (selanjutnya disebut S) berselingkuh. Parahnya, sang suami berselingkuh dengan seorang wanita muda yang, secara usia, lebih pantas menjadi anaknya. Rupanya, sang selingkuhan (sebut saja K) ini adalah teman kuliah dari salah satu anak pasutri ini.

Awalnya, S iba terhadap keluarga K yang tidak memiliki cukup dana untuk melanjutkan pendidikan bagi K dan saudara-saudaranya. Karena itulah, S akhirnya berbaik hati mendanai biaya kuliah K dan saudara-saudaranya. Bahkan, karena K adalah teman baik dari salah satu putri S dan I, K kerap menginap di rumah S. Dasar witing tresno jalaran soko kulino, S pun lambat laun menaruh hati terhadap K dan terjadilah suatu kejadian yang tidak diinginkan: S dan K menikah siri, bahkan K pun sampai hamil.

S mengaku kepada pemirsa, bahwa I sudah tidak bisa melayaninya seperti dulu. I pun memohon agar S menceraikan K dan kembali kepadanya, karena salah satu putri mereka akan menikah -- yang kemungkinan besar akan mencoreng reputasi keluarga S di hadapan calon besan dan, bukan tidak mungkin, akan membuat keluarga calon besan membatalkan pernikahan. Permohonan itu ditolak mentah-mentah oleh S, dengan alasan bahwa K sudah mengandung anaknya.

Ketika K ditanyai alasan di balik kesediaannya dinikahi siri oleh S, K menjawab bahwa itu semata-mata karena K berhutang budi pada S yang telah membiayai kuliahnya dan kuliah adik-adiknya.

Setelah berbagai macam adegan drama yang berlangsung sementara saya berada di alam mimpi, seorang psikolog yang hadir di studio mengatakan bahwa manusia akan berubah seiring usia, dan itulah sebabnya mengapa I tidak bisa melayani S seperti dulu. Beliau juga menyarankan agar S menceraikan K setelah anak mereka lahir."

Saya tidak menaruh perhatian lebih lanjut terhadap apa yang terjadi sesudah psikolog itu menyampaikan opininya. Saya terlalu sibuk mengaduh dan berpikir mengenai motif para pasutri yang merelakan dirinya mengikuti acara tersebut, dan sekaligus secara tidak langsung membeberkan permasalahan rumah tangga mereka kepada ribuan orang yang menonton acara tersebut tentunya.

A few questions:
1. Apakah saran psikolog itu benar-benar merupakan akhir dari permasalahan ini?
2. Kalau bukan, why risk everyone knowing about their marriage problem and in the end, ended up with nothing?

A few complicated answers:
1. Anak adalah sesuatu yang berharga bagi kedua orangtuanya. Setelah anak itu lahir, bukan tidak mungkin sang ayah ingin mempertahankan anaknya, dan kecil kemungkinan sang ibu bersedia melepas bayinya.
1.1. Seandainya sang ayah bersedia melepas sang ibu dan bayinya, apa yang akan terjadi pada mereka? Bukankah tindakan mendanai pendidikan seseorang lalu meninggalkan orang tersebut dengan keadaan sudah tidak suci dan bahkan memiliki anak di luar nikah sesuatu yang buruk? Apalagi kalau sang (mantan) gadis (dalam hal ini K) ditinggalkan tanpa bantuan dana. Because as we all know, keluarga K berasal dari tingkat ekonomi yang lemah. Dan sekarang mereka masih harus mengurus seorang anak yang notabene, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

1.1.1 Katakanlah sang ayah (dalam hal ini S) masih bersedia mendanai kehidupan K. Apa tanggapan dari I? Bukan tidak mungkin I akan menganggap K sebagai seorang pengkhianat dan bisa jadi melarang S untuk terus mendanai K.

1.1.2 Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup adalah saat kita dikhianati. Apalagi jika orang yang mengkhianati kita adalah orang yang sangat dekat dengan kita, bahkan memiliki hubungan khusus dengan kita. Dan sebagai seorang istri, tentu I merasakan sakit hati yang luar biasa saat S menikah siri dengan K. Kalaupun pada akhirnya S kembali ke pelukan I, sebagai makhluk yang mampu berpikir, I akan mencegah S kembali kepada K. Tetapi seandainya I memang seorang wanita dengan hati yang luar biasa lapang dan ia tetap memperbolehkan S mendanai K, maka terjadilah sebuah peristiwa yang kita sebut happy ending. Walaupun happy ending ini tetap menyisakan resiko bagi S untuk kembali ke pelukan K dan mengulang semua masalah ini dari awal. Remember, S dan K berpisah atas saran dari seorang psikolog yang hadir dalam sebuah acara variety show, bukan murni karena mereka menyadari kesalahan dan memutuskan untuk bertobat.

1.2 Seandainya sang ayah tidak bersedia melepas sang ibu dan bayinya, maka percuma saja mereka mengikuti variety show ini. Masalah akan tetap berlanjut. They ended up with nothing.

1.3 Seandainya sang ayah bersedia melepas salah satu: Katakanlah ibunya (bayinya tetap bersama dengan ayahnya sehingga K bisa kembali ke keluarganya tanpa membawa berkat tambahan), apa yang akan terjadi pada ibu dan bayi ini? Seorang ibu yang baik tentu akan merindukan bayinya dan bukan tidak mungkin dia akan terus berusaha untuk bisa bertemu bayinya kembali. And as for the baby, apa yang akan terjadi di rumah? Bukan tidak mungkin anak-anak dari S dan I membenci anak itu. Dan tentunya hal itu akan berdampak buruk pada perkembangan mental anak tersebut. Bahkan kalaupun dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari segenap keluarga S, apa yang akan terjadi pada saat dia tahu bahwa dia adalah seorang anak haram? Bukan tidak mungkin dia akan berusaha mencari ibunya. Anak mencari ibu, bapak mencari anak, ibu bertemu bapak, dan entah masalah apa lagi yang akan terjadi. Setiap benih dosa akan menumbuhkan pohon berduri bernama karma buruk yang siap jatuh dan menimpa sang pelaku dan orang-orang di sekitarnya. It just takes time to grow, that's all.


2. Well, jujur saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Entah apa motif yang mereka miliki. Yang jelas, kalau hanya sekedar mendapatkan saran psikolog, berkunjunglah ke rumah sakit dan temuilah seorang psikiater. Atau psikolog. Atau apapun yang ada. Mungkin biayanya sedikit lebih mahal. Tapi itu akan menyelamatkan mereka dari rasa malu yang ada saat mereka membeberkan permasalahan rumah tangga mereka di depan semua orang. Yah, walaupun mereka mengenakan topeng, tetap akan ada sensasi tersendiri saat seseorang berteriak, menangis, memaki, bahkan mungkin melakukan kekerasan fisik terhadap seseorang yang disebut suami atau istri di depan banyak orang. Atau mungkin jawabannya adalah mereka sudah terlalu kebal terhadap sensasi malu itu? Hmm... :-?

Satu hal yang saya tahu, masalah rumah tangga hanya pantas dibeberkan kepada orang lain -- yang tidak dikenal -- kalau sang korban tidak bersikap cengeng dan in the end, memberikan hikmah. Yang jelas saya tidak mendapat hikmah apapun dari variety show itu -- paling tidak dari episode itu.


Saya memohon maaf atas penjelasan jawaban saya (terutama nomor 1) yang mungkin agak sedikit membingungkan. Seandainya mungkin, saya akan menggunakan indent seperti yang saya gunakan setiap kali menulis di dalam tag if. Atau membuat sebuah tree yang mungkin akan mempermudah anda untuk melacak kemungkinan-kemungkinan yang ada. Sayangnya, blog ini tidak memungkinkan hal itu. Jadi anda terpaksa harus puas dengan penomoran a la skripsi yang terdiri dari bab, subbab, dan sub-subbab.

Selanjutnya, saya harus mengakui bahwa semua argumen yang saya lontarkan sebagian besar berakar dari sinetron drama dan sedikit cerita dan opini dari orang-orang di sekitar saya. Mungkin saya buta terhadap realita kehidupan berumah tangga. Kalau anda memiliki opini yang berbeda atau opini yang memang berdasarkan atas pengalaman pribadi anda, feel free to leave a comment. Mengutip slogan sebuah iklan rokok: Ga ada (komen) lo, ga rame :)

Sebenarnya saya tidak ingin membuat anda sekalian letih membaca entry saya yang panjang tinggi ini, tapi saya baru menyadari bahwa episode variety show yang dibahas tidak mendukung pertanyaan utama saya: Apakah variety show tersebut menggunakan skenario?

Jadi dengan sangat terpaksa, saya harus menceritakan sebuah episode lagi, yang kali ini diceritakan oleh salah satu teman kuliah saya, seperti yang saya kutip dari e-mail kantor saya yang saya gunakan dengan tidak bertanggung jawab:

"Casenya seorang istri udah ga tahan ama si suami punya selingan selama 2thn. Udah married 8 thn dan punya 1 anak umur 6 thn. Gw terharu banget pas si istri claim bahwa suaminya tetep seorang yang ideal, sementara suaminya nyalahin istrinya terus. Si istri ampe nangis bilang kalo dia udah ngasih segalanya buat suaminya. Tapi si suami katanya ga pernah nyentuh dia sejak ngelahirin anak mereka.
Uniknya, si istri bukannya ngedamprat selingannya, tapi diajak temenan biar tau apa sih kekurangan dia sebenernya. Presenternya, keluarganya ampe penonton pada bilang si istri itu kurang apa lagi. Kalo gw liat, si istri emang cakep sih. Posturnya tinggi, plus posisi kerja dia juga tinggi. Manager Accounting katanya. Tiap kali ngomong, si suami nyalahin si istri terus dari awal. Dari situ gw tau kalo kayaknya si suami nih yang bermasalah, meski saat itu belum dimention sama sekali soal orang ketiga oleh sang istri.

Hebohnya, pas si istri munculin selingannya si suami. Dan spontan si suami kaget bukan main. Setelah pada ribut2 (baik kedua pihak keluarga, maupun penonton), klimaksnya si suami suruh pilih, istrinya atau selingannya. Dan si suami pilih siapa? Dia pilih selingannya! Terang2an di depan istri dan selingannya, keluarganya dan mertua, penonton bahkan di depan kamera! Saat itu gw ngeliat si istri bener2 hancur banget rasanya, sambil si suami ngegandeng selingannya. Gw ampe ga sampe ati gitu ngeliat wajahnya dia.

Eh, taunya si selingan narik satu orang dari bangku penonton yang ternyata calon suaminya dia. Mampus dah. Kalo tadi si istri, sekarang si suami yang hancur banget. Disuruh minta maaf awalnya ga mau, akhirnya ampe berlutut di depan istrinya. Abis itu, pas terakhirnya dapet voucher buat bulan madu ke dua. Gw ampe terharu banget nonton itu acaranya. Kayaknya gw bakal nonton lagi minggu depan.
Banyak value ttg relationship yang bisa didapetin baik dari casenya, maupun penjelasan dari psikolognya."

Well, good to know the happy ending.

A few opinions:
1. Anggap saja si selingan memang sudah memiliki calon suami. Dan di depan mata sang calon suami, secara tidak disangka-sangka, sang calon istri (yang tak lain tak bukan adalah si selingan) muncul di hadapannya sebagai seorang simpanan, seorang selingkuhan dari pria yang sudah beristri, yang artinya sang calon istri masih sempat berselingkuh padahal dia sudah memiliki calon suami. Dan uniknya, pada acara itu tidak disebutkan terjadi keributan antara sang selingan dengan calon suaminya. Kenyataan ini hanya menyisakan beberapa penjelasan: Sang calon suami juga berselingkuh sehingga dia masih mau menerima sang calon istri (yang berselingkuh di belakangnya); atau Sang calon suami memutuskan untuk tidak menanggung malu dengan ribut-ribut di depan kamera dan memutuskan untuk membahasnya dalam perjalanan pulang; atau Sang calon suami sudah terlalu cinta. Jujur, penjelasan terakhir tidak masuk akal bagi saya. Tapi apa daya, kenyataan bahwa sang calon pengantin tidak marah saja, bagi saya, sudah tidak masuk akal.

2. Sang suami dengan hati hancur kembali kepada istrinya, sambil berlutut, karena dia melihat bahwa selama ini dia juga dikhianati. Di satu sisi, kita bisa menyebutnya karma. Tapi di sisi lain, motivasi sang suami kembali kepada istri bagi saya tidak masuk akal. Dia kembali hanya karena dia berselingkuh dengan orang yang salah. Kalau suatu hari sang suami bertemu dengan seorang gadis yang masih single, saya tidak berani jamin bahwa sang suami tidak kembali mencoba untuk berselingkuh, dan bahwa mereka tidak akan muncul kembali di studio TV itu dengan membawa permasalahan yang sama. Kembali kepada seseorang, apalagi setelah tali percintaan itu putus karena sebuah permasalahan, tidak bisa disambung kembali segampang itu. Paling tidak, dibutuhkan penyelesaian dari permasalahan itu dan niat yang kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Dan menurut saya, itu tidak bisa terjadi hanya dalam selang waktu 5 menit yang dibutuhkan sang selingan untuk memperkenalkan calon suaminya itu. Bagi saya, adegan ini seperti sebuah akhir dari sebuah fairy tale: Sang pangeran menembus semak duri, menghunus pedangnya dan berhasil membunuh sang naga jahat/penyihir/monster/apapun itu, menghela kuda putihnya menuju istana kerajaan negeri sebelah dan menemukan sang putri yang tertawan, membebaskannya, and they lived happily ever after.

Ya, saya memang agak skeptis saat-saat ini. Tapi saya pernah mencoba untuk mempercayai sesosok prince charming, membayangkan saya berada dalam sebuah fairy tale. Tapi saya gagal. Sejak itu, saya tidak lagi mempercayai prince charming -- walaupun, in a way, tetap mengharapkan prince charming itu ada -- dan fairy tale, dan saya tidak bisa mempercayai adegan itu.

Sampai pada titik ini, bisa jadi beberapa di antara rekan pembaca menganggap bahwa entry ini terkesan merendahkan sebuah variety show tertentu, padahal sebenarnya tidak. Entry ini semata-mata dibuat untuk menyalurkan opini dan kecurigaan saya bahwa variety show itu menggunakan skenario, tidak lebih.

Yah, memang ada lebihnya sedikit: Saya berkesempatan untuk membahas permasalahan rumah tangga yang bisa dibilang kasus klise di kalangan masyarakat dunia. Dan berkesempatan pula untuk membahasnya dengan anda semua. Sampai kalimat ini anda mungkin sudah bisa menebak -- bahkan mungkin memastikan -- bahwa saya takut dituntut atas tuduhan merusak nama baik atau apapun itu (saya tidak mengerti, dan tidak mau mengerti, tentang hukum). Karena itu saya berusaha membuat entry saya senetral mungkin. Walaupun kadang saya memang tergoda untuk menulis opini saya dengan bahasa yang lebih gamblang. Tapi apa daya, tanpa saya sadari, bisa jadi tuntutan pengadilan sudah mengintip di depan pintu. Semoga hal itu tidak terjadi.

Last but not least, menjawab pertanyaan saya, apakah variety show itu menggunakan skenario? Dari ketidakbisaan saya menerima adegan yang terjadi mungkin sudah jelas jawabannya: Skenario. But still, feel free to leave a comment. I would highly appreciate that :)

|