Jadi ceritanya, hari ini gw nyampah lagi. Baru efektif kerja (sedikit) sekitar jam 3 sore :p *kabur* Dan selagi mengisi jatah waktu makan siang, gw baca2 majalah Kartini yg gw beli beberapa waktu lalu, yg entah kenapa gw ga berselera baca2 artikelnya (pdhl itulah sebabnya gw beli Kartini, krn banyak artikelnya yg bisa gw baca). Jadi gw cuman baca cerpennya doang. Dan ketemulah gw dengan cerita ini.
Cerpen yg agak aneh. Mengangkat tema yg ga biasa, sekaligus dengan gaya bercerita yg ga biasa pula. Di akhir cerita ada sebuah footnote bertuliskan: 'Buat RJ'. Gw asumsikan RJ itu adalah orang yang mengalami atau berimajinasi atau memberi ide tentang kejadian di cerpen tsb, yg gw ringkas di bawah ini.
Sedikit memberi kita gambaran tentang istilah 'east is east, west is west', sekaligus mengingatkan gw akan seseorang yang gw temui belakangan. Seseorang yang tampaknya sedemikian high quality dan taat, yang pada akhirnya -- walaupun ga separah tokoh dlm cerita ini -- seolah hanya mau memberikan dan menginginkan tubuh, bukan hati. Sekedar membelai. Disingkat menjadi SeLai oleh salah satu teman baik saya.
Enjoy the short story.
If you can :)
But at least, please try to understand the story :p
************************************************************
Raoul. Asli Tamil India yang lahir dan besar di Inggris dan sekarang warga negara Malaysia.
...
Raoul seorang Hindu yang taat. Ia berdoa pagi dan sore hari di meja sembahyangnya dengan foto ibunya terpajang di sana. Dan memakai dung di ujung atas hidung, di tengah antara kedua alisnya. Hidupnya teratur dan bisa dideteksi per detik, karena ia membuat daftar itu semua di kepalanya.
Ia bekerja lima hari seminggu. Setiap akhir pekan ia nonton drama atau pertunjukan tari India atau film-film Tamil sendirian, atau berbelanja elektronik. Setiap dua minggu ia menengok rumah pribadinya yang bertingkat dua di Johor Bahru, sekadar membersihkan rumah dan rumput serta memeriksa apa yang diperlukan di sana.
Ia hidup sendiri. Ia sudah terlalu biasa tidak bicara dengan siapapun dalam satu hari.
...
Ia seorang pembersih, tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak mencari kesenangan seks di jalanan. Ia seorang yang cepat. Masak cepat, makan cepat, bicara cepat, bekerja cepat, membaca cepat, tidur cepat. Kecuali bercinta, katanya tertawa.
Bahasa Inggris Raoul sangat indah. Catatannya di Facebook seperti catatan seorang penulis hebat. Perempuan itu sangat menikmati membacanya.
"Tulisan-tulisanmu sangat membumi," puji perempuan itu.
"Terima kasih. Saya merasa tersanjung. Tapi saya sungguh tidak sedang berusaha membuat kamu atau siapa pun kagum. Sekarang saya sedang mencari pasangan untuk menjadi istri. Saya ingin menikah sekali saja selamanya. Itu yang orang tua saya lakukan sepanjang hidup mereka. Saya ingin perempuan yang pintar, tidak tergila-gila dengan uang dan kemewahan. Dulu saya pernah tinggal bersama perempuan Inggris selama dua tahun. Tapi kami berpisah karena dia menginginkan pernikahan dan mempunyai anak."
"Kamu tidak mau menikah dan punya anak?" tanya perempuan itu.
"Dulu. Sekarang, saya ingin punya anak. Mungkin beberapa anak. Ibu saya sudah tua. Ia ingin melihat saya punya istri dan anak. Kita sudah berkenalan dan berbicara-bicara, hm... dua bulan? Maukah mencoba berpacaran?" tanya Raoul serius dan to the point.
"Kita berjauhan," jawab perempuan itu asal saja.
"Sekarang jarak bukan lagi isu penting, sayang. Coba lihat Facebook ini. Menghubungkan dunia hanya dalam satu pad komputer. Mau atau tidak, itu saja masalahnya. Bagaimana?"
"Hmm... saya akan mempertimbangkan, Raoul."
"Bagus. Saya bisa terbang ke Jakarta kapan saja kamu siap."
*********
Bulan keempat, Raoul dan perempuan itu berjanji bertemu. Pesawatnya tiba di Bandara Soekarno - Hatta pukul 10.35. Waktu yang tepat untuk melakukan apa saja, termasuk bertemu kekasih. Perempuan itu melihat Raoul menenteng ransel di pundaknya. Hari terasa sejuk dan indah.
Raoul menggenggam tangan perempuan itu dengan lembut. Matanya yang hitam berbinar.
"Akhirnya kita bertemu," ucapnya senang.
"Capek?" tanya perempuan itu.
"Tidak setelah melihat kamu. Kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan."
"Kamu mau duduk dulu minum kopi?"
Raoul setuju. Mereka minum kopi tubruk khas Toraja. Ternyata Raoul tidak seserius seperti yang perempuan itu pikir. Cara bicaranya lembut dan teratur, percaya diri. Pertemuan mereka tampaknya akan membuahkan hasil yang manis. Keduanya saling memuji tak berhenti.
"Kamu suka pertemuan kita?" tanya Raoul.
"Ya."
Lalu Raoul menyadari perempuan itu tidak membawa tas lain kecuali tas kecilnya.
"Kamu tidak membawa pakaian untuk menginap?" tanya Raoul. Keningnya berkerut.
"Tidak. Saya sudah memesan hotel untuk kamu," jawab perempuan itu.
"Hotel? Baiklah. Kamu akan menginap di hotel itu dengan saya 'kan?"
Perempuan itu memandang Raoul. Ia tidak pernah berpikir soal menginap bersama. Tidak pernah terlintas di pikirannya. Bagaimana bisa tinggal di satu kamar hotel dengan seorang yang baru bertemu face to face meski sudah kenal empat bulan di Facebook?
"Saya tidak menginap di hotel dengan kamu, Raoul. Tapi kita akan selalu bersama. Saya sudah siapkan waktu dua hari ini untuk kita bersama."
"Apa maksudmu tidak menginap denganku di hotel, sayang?"
"Saya tidak akan menginap dengan seorang laki-laki di hotel."
"Tentu saja kamu tidak menginap dengan laki-laki di hotel. Kamu menginap dengan saya, calon suamimu. Kamu ingat? Kita akan bersama-sama selama akhir pekan ini, bukan?"
"Ya, Raoul."
"Dan kita akan mencoba tidur bersama, bukan?"
Perempuan itu terperangah. Ia tidak bisa menjawab. Dan Raoul sepertinya bertanya dengan cepat, ingin jawaban cepat, tidak memberinya jeda untuk berpikir.
"Kenapa diam? Bukankah sepasang kekasih saling mencoba sebelum memutuskan untuk menikah?"
"Ya, benar, Raoul. Hanya tidak berpikir kita akan tinggal dalam satu kamar hotel."
"Kenapa tidak, sayang?" suara Raoul lembut.
"Saya belum pernah... seperti itu."
"Jangan takut, sayang. Saya tidak akan memaksa. Tidak pernah memaksa seorang perempuan. Saya hanya ingin kita bersama setiap saat. Bagaimana aku bisa melewatkan malam di sini tanpa kamu?"
Perempuan itu memandang Raoul. Betul-betul di luar kemampuannya. Tangan Raoul menyentuh bawah dagunya.
"Itu tidak masalah. Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu, sayang. Bukankah kita sudah membicarakannya? Kita sudah mendiskusikan banyak jam di telepon atau chatting tentang masalah ini. Kita sudah dewasa, sayang. Kita melakukan segalanya dengan tanggung jawab dan bukan dengan ketakutan."
Perempuan itu gelisah dan ia merasa ada kesalahpahaman di sini. Hatinya membeku dan kehangatan menguap pergi.
"Raoul, maafkan saya. Saya hanya ingin kita saling mengenal dan melewatkan banyak hal menyenangkan di sini."
"Tentu, sayang. Itu sebabnya kita akan menghabiskan waktu dua hari ini bersama. Setiap pasangan di dunia melakukan hal-hal yang intim sebelum mereka menikah, bukan?"
"Tidak dengan budaya dan kebiasaan di sini, Raoul."
"Oh, bagus. Budaya dan kebiasaan? Sebentar lagi kamu akan bilang soal agama dan Tuhan. Kamu akan bilang kita tidak bisa tidur bersama sebelum menikah karena persoalan moral? Tidak sadarkan bahwa kamu sedang memanipulasi moral? Tidakkah itu tindakan menipu dan tidak bertanggung jawab? Kamu membuat saya salah berpikir tentang hubungan ini," ujar Raoul cepat.
Mata hitamnya berubah menjadi mata elang yang marah dan hendak menukik turun menghabisi lawannya.
"Raoul, jangan marah. Saya hanya...," kata perempuan itu putus asa.
"Saya tidak marah, sayang. Saya hanya benci kepada diri saya sendiri yang bodoh. Biaya tiket dan hotel tidak murah. Juga perjalanan saya ini. Kamu tahu saya bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk maksud tidak jelas. Lagi pula dengan uang yang saya keluarkan sekarang ini, saya bisa mendapatkan wanita dewasa yang normal."
Perempuan itu terkejut. Raoul membandingkannya dengan perempuan lain yang bisa dibeli jasanya di jalan?
"Kamu membandingkan saya dengan perempuan yang bisa kamu bayar, Raoul?"
"Saya bukan pemburu perempuan semacam itu tapi saya benar-benar kecewa."
Perempuan itu tidak mempunyai kata-kata lagi. Coffee shop tempat mereka duduk tiba-tiba menjadi suram diliputi kecemasan.
Akhirnya perempuan itu tak tahan, berkata, "Saya perlu waktu, Raoul."
"Kamu seharusnya mengatakan itu sejak awal kalau itu yang kamu mau. Cinta itu mau melakukan segala sesuatu untuk pasangannya."
Perempuan itu sudah tertinggal jauh.
"Kenapa diam? Kamu masih menginginkan saya di sini? Jujurlah sebelum saya mengeluarkan terlalu banyak uang."
"Raoul, bukankah kita bisa melakukan hal-hal lain yang menyenangkan?"
"Tidak, sayang. Saya ke sini untuk bersama denganmu, bukan berlibur. Itu yang saya tahu. Kalau kamu mempunyai rencana lain, itu bukan dengan saya. Begini saja. Saya tidak akan percaya dengan perempuan yang ditemui di dunia maya. Saya tahu perempuan suka berubah-ubah tapi baru kali ini saya menemukan perempuan yang tidak bertanggung jawab dengan kata-katanya."
Perempuan itu seperti sudah berubah menjadi patung garam.
"Sudahlah, saya tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ini uang untuk kopi. Terima kasih untuk pertemuan ini. Lain kali, tolong bicara dengan jelas. Saya akan mencari tiket untuk kembali ke KL. Saya tidak terima dengan apa yang terjadi hari ini."
Raoul bangkit dari tempat duduknya dengan emosi terjaga, menarik ransel dengan wajah lurus, meninggalkan perempuan itu seorang diri di kursinya. Perempuan itu termangu. Sebelum ia menarik napas yang kedua, Raoul sudah menghilang di balik dinding.
Perempuan itu tak percaya apa yang sudah terjadi. Raoul yang ia kenal empat bulan di dunia maya hanya bertahan duduk dengannya kurang dari tiga puluh menit?
****************************************************************************
Seseorang yang sudah pernah menjalani hubungan selama 2 tahun dan 5 tahun hanya bertahan kencan denganku kurang dari 2 bulan?
Hahaha.. bukan bermaksud menumpahkan emosi atau penyesalan lagi kok, tenang aja. Cuman bermaksud pamerin cerita yg intinya nyerempet dgn kejadian hidup gw, hehe.
<< Feel sexy