Hari ini tampaknya langit sedang sedih. Mungkin disebabkan karena salah seorang anak manusia menyebut langit itu putih dan awan itu biru. Menyakitkan memang jika jerih payah yang dikeluarkan selama ini tidak dihiraukan. Karena itu, air mata berbentuk hujan terus menerus membasahi ibukota negara yang merupakan kota sekaligus propinsi dengan populasi terbanyak di Indonesia. Tidak hanya sejam, dua jam, atau tiga jam, tetapi lebih dari delapan jam penuh dilalui dengan tangis. Cukup lama untuk turut mengharubirukan perasaan sekian persen manusia yang berada di jalan-jalan kota Jakarta.
Hari jumat ini dimulai dengan dering telepon yang entah berasal dari mana. Seakan ingat pada ketidakmampuan seorang anak dara untuk bangun pagi dan kelalaian dara tersebut untuk menitipkan jasa weker melalui salah satu operator CDMA terbesar di Indonesia, telepon pun berdering selama beberapa waktu. Tidak ada seorang pun di ujung sana ketika telepon tersebut diangkat. Anggaplah telepon iseng tadi sebagai weker yang pertama. Karena masih terpaut satu jam dari waktu yang seharusnya, alam mimpi pun belum rela melepas kepergian anak dara tersebut. Tugas weker yang kedua dan ketiga pun tidak berhasil ditunaikan dengan baik. Sampai pada akhirnya, weker yang keempat, yaitu weker alami dari tubuhlah yang berhasil mengalahkan alam mimpi.
Hari ini memang bukan hari yang baik, karena langit sudah menangis sedari alam mimpi masih berkuasa. Tapi toh tetap juga dibuat suatu keputusan yang salah, yaitu keputusan untuk tetap menerjang hujan menuju kampus demi mengambil notulen pengadilan. Stasiun kereta Pondok Ranji menjadi tujuan pertama untuk pagi ini. Sialnya, tidak ada satupun kereta yang melintas karena kabel di atas kereta di daerah Serpong terputus. Air mata langit yang menggenang di jalan-jalan membuat sepasang kaki bersandal itu kotor. Tak lupa debu dan kotoran di jalan yang tercampur dengan cukup merata menimbulkan rasa gatal pada kedua kaki malang tersebut.
Keputusan kedua dibuat, yaitu keputusan untuk menaiki angkot d09 menuju BTC demi mengejar transbintaro. Bis yang berangkat pukul 9 tidak terkejar karena rasa malas dan benci terhadap hujan. Pilihan yang tersisa hanyalah menaiki bis yang berangkat pukul 10. Bis yang bocor akibat kondensor AC yang mengembun menambah buruk pagi hari ini. Begitu juga dengan perjalanan panjang mengatasi macet, hujan, dan kebocoran AC yang berlangsung selama sekitar satu setengah jam. Sekitar pukul 11.30 sampailah bis tersebut di Ratu Plaza. Karena Patas AC tak kunjung datang dan jalan besar semakin macet, sedan berwarna putih pun menjadi sasaran.
Keputusan ketiga adalah keputusan untuk memotong kemacetan jalan dan melewati daerah Senayan, menuju ke arah Palmerah. Sayangnya, jalan dari arah Pasar Palmerah menuju Kampus Syahdan penuh sesak dengan mobil. Sedan putih itu memutar balik dan menuju ke arah Slipi Bawah. Genangan air sedalam sekitar 30 cm menutupi jalan menuju Slipi Bawah. Namun sedan itu belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Kemacetan yang terjadi di sekitar erha Clinic pun tidak membuat sedan tersebut berhenti dan memutar balik. Tapi lagi-lagi, genangan air sedalam sekitar 50 cm menutupi jalan di depan Kampus Kijang. Akibatnya, sedan putih yang bensinnya sudah mau habis tersebut harus memutar balik dan menuju ke arah batusari.
Sampai disinilah perjuangan sedan putih berlogo Ekspress tersebut. Penumpangnya harus turun di pertigaan yang masih sekitar 400m dari pertigaan batusari tanpa disertai supir. Dua orang Otto Iskandar Dinata pun harus takluk di bawah hujan. Dan anak dara penumpang taksi tersebut terus berjalan di bawah naungan payung kecil berwarna biru, menerjang hujan dan menahan dinginnya angin setengah badai dengan baju lengan pendek yang dipilih atas keputusan yang salah.
Pada sekitar pukul setengah dua siang, tempat fotokopi bernama Daya menerima kedatangan anak dara tersebut. Toilet dan sebuah katalog Sophie Martin menjadi sasaran setelah urusan di tempat fotokopi tersebut diselesaikan. Hujan yang masih mendera dijadikan alasan untuk mengeringkan baju dan sandal serta celana panjang yang basah akibat serangan air hujan. Antibodi yang selama ini beraksi dengan cukup baik pun terancam hancur karena lapar dan kehujanan. Tak lupa jaket hitam berukuran M (atau L?) berinisial empat huruf yang berada di dalam tasnya gagal dikembalikan karena air hujan merembes masuk ke dalam tas.
Sekitar setengah jam kemudian, Kampus Anggrek menjadi tujuan berikutnya. Dan setelah urusan di kampus diselesaikan, basement pun menjadi tujuan berikutnya. Seorang lelaki bercelana pendek dan bersandal merk pakalolo yang sedang menunggu motor seorang lelaki lain yang katanya lepek dan becek dapat ditemui di dekat pintu masuk basement. Waktu menunjukkan sekitar pukul 15.30. Dan tampaknya langit sudah puas menyengsarakan Jakarta. Tetesan air dari atas pun terhenti walaupun matahari yang sedang ngambek karena ulah sang langit masih ogah mengerahkan segenap kekuatannya. Dan sang anak dara pun menagih janji traktiran dari seorang lelaki bercelana pendek dan bersandal merk pakalolo tersebut.
Untungnya perjalanan pulang menuju rumah tidak seberapa menyiksa. Genangan air yang sudah mulai surut dan jumlah kendaraan yang berkurang akibat derasnya hujan membuat jalan-jalan di Ibukota cukup lengang. Rasa lega dan senang yang tak terkira menyusup ke dalam hati sekian orang yang berhasil sampai ke rumahnya masing-masing. Tak terkecuali anak dara yang sedari jam 8 tadi memulai harinya dengan cukup buruk. Berdoalah semoga penyakit dan kuman serta virus-virus masih malas menyerang karena hujan.
Semoga esok hari langit sudah mulai ceria walaupun pergantian tahun sudah di depan mata. Dan semoga pengalaman hari ini tidak terulang lagi.
PS: Kali ini menggunakan subclass dari TPV, yaitu penulisan gaya skripsi alias Zero Point View (ZPV) atau tidak ada kata ganti orang. Susah --' Korsetnya ditunggu, lol~
<< Feel sexy